13 Apr 2013

Terimakasih Ayah

Judul ini akan menjadi awal postingan blog baruku, setelah sekian lama tidak menulis karena lupa user dan password blog yang lama, oke itu tidak penting sepertinya..

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Menjadi anak pertama yang diijinkan merantau untuk menuntut ilmu adalah hal yang luar biasa menurutku. Walaupun harus diawali dengan sekelumit kontropersi, debat ketat, teguh hantam, cek cok mulut dengan orang tua yang berpikir apakah sanggup sang anak jauh dari lingkaran perlindungan mereka. Tapi hal itu bukan benteng besar, justru itu adalah sebuah seni. Ya wajar saja orang tua berpikir ragu, karena mereka belum memiliki pengalaman ditinggal pergi oleh anaknya. Lama-lama mereka juga terbiasa, dengan jarak jauh , hanya telepon genggam dengan nomor telepon keluarga yang dapat mereka manfaaatkan untuk menyempurkan lingkaran perlindungannya.

tik tok tik tok, 
bunyi itu mengantarkan aku pada sebuah dunia dimana aku seakan ditenggelamkan dalam pikiran masa lalu

Sebagai anak pertama , mungkin wajar jika didikan orangtua lebih ekstrem daripada didikan ke anak kedua ketiga dan sebagainya. ini yang aku rasakan, entah mengapa. Dulu aku begitu takut terhadap orang tua, terutama ayah. Ayahku adalah seorang polisi. Tubuhnya tinggi, badannya kekar, paras wajahnya berkarisma, jalannya tegap bersahaja. Dengan sikap dan sifat kemiliterannya, beliau mendidiku supaya menjadi anak yang tangguh. Beliau selalu menanamkan dan menekankan arti disiplin dalam menjalani hidup.

Jujur,, awalnya aku sempat berpikir aku dididik begitu keras, mendapat nilai kecil dimarahin, main jauh ga dapet izin, ga ngaji beberapa hari dimarahin, dan masih banyak hal-hal yang menjadikan aku berpikir demikian. Hingga aku berpikir lagi, apapun yang aku lakukan nampak salah dimata ayahku. 
Tapi aku tidak pernah menyalahkan hal itu, malah aku merasa telat sadar. Telat menyadari bahwa didikan yang ayah berikan itu memang benar. Kerasa sekali manfaatnyan sekarang.

Sekarang aku kuliah di Bogor, jauh dari pantauan orang tua. Tidak ada kata 'ayo bangun, cari udara segar' saat ayah membangunkan aku, tidak ada 'mimbar' tempat ayah menasihati aku, tidak ada kicauan ketika ayah melihat kamarku berantakan walaupun yang berserakan itu buku, tidak ada .... ya pokonya tidak ada lagi hal-hal yang selalu ayah lakukan disini. Sekarang aku hidup mandiri, ayah sudah memberi kepercayaan kepadaku bahawa aku bisa melakukan semuanya tanpa harus diingatkan.

Seyoginya aku harus membuat orang tua ku bangga, aku harus bisa membuktikan bahwa hasil didikan ayah berhasil.

Terimakasih ayah, jasamu tiada tara, kasih sayang tersiratmu bisa aku rasakan sekarang. {}


*postingan ini telah berahasil membuat lakrimal sang penulis memproduksi lakrimanya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar